Menggali Makna Filosofis Tugu-Keraton Yogyakarta dalam Lipatan Imajiner

- 9/19/2017 07:14:00 PM
advertise here
Apa keistimewaan Yogyakarta selain posisi politik dan pariwisatanya. Sisi politik berarti kedudukan istimewanya di tengah poros Republik Indonesia. Kita ingat peristiwa lampau. Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) ke-IX, dengan rendah hati, gayung bersambut usai Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan.
Apa keistimewaan Yogyakarta selain tingkat peradaban yang luhur tapi dimuseumkan di etalase pariwisata yang menindas nilai-nilai, sementara keuntungan modal lebih diagungkan ketimbang kasepuhan budaya? Rony K Pratama
Ilustrasi Kawasan Wisatan Tugu Jogjakarta (@memedhs)
Padahal, di satu sisi, Yogyakarta sudah eksis selama satu setengah abad lebih di bumi Mataram. Berkat kebesaran hati sang negarawan, Hengky, nama kecil HB-IX, menyambut negara baru itu. Karenanya, secara politik, Indonesia adalah bagian dari Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bukan sebaliknya.
Sri Sultan HB IX dan Presiden Soekarno
Sri Sultan HB IX dan Presiden Soekarno (@merawatjogja)
Yogyakarta sejatinya merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram. Nilai historisnya telah melewati abad demi abad semenjak era Medang Kamulan abad ke-8. Sumber lain mengatakan jauh lebih tua, yakni pada zaman Ki Dewata Cengkar beratus-ratus tahun sebelumnya. Masa silam yang membentang jauh itu menyiratkan konsep klasik yang masih bertahan hingga hari ini: menegaskan sangkan dan paran manusia.

Manusia Jawa acap mewacanakan sangkan (dari mana) dan paran (akan ke mana) dalam konteks kehidupan. Peradaban Jawa telah mencapai titik hakiki dalam ekspresi penemuan diri di tengah poros alam semesta. Baginya, hidup itu selaksana tugas temporal kepada tiga titik universal.

Simak Ilustrasi Video Perjalanan di Kawasan Tugu Jogjakarta berikut (klik gambar)

Pertama, pengabdian manusia kepada Tuhan (vertikal). Kedua, berbuat baik dan saling menyelamatkan di antara manusia (horizontal). Ketiga, merawat bumi beserta makhluk di dalamnya. Ketiganya diseimbangkan secara sadar melalui laku urip iku urup. Secara nilai sebetulnya orang Jawa telah menerapkan konsep hablumminallah, hablumminannas, dan habluminnalalamin.

Ketiganya tak berdiri sendiri secara definitif. Karena itu, manakala menerapkan hablumminannas dan habluminnalalamin manusia Jawa melandasinya dengan kesadaran hablumminallah sebagai entitas tan kena kinira kinaya ngapa. Kerangka filosofi demikian terpampang jelas antara Tugu hingga Keraton Yogyakarta.

Pada mulanya berdiri di samping Tugu Yogyakarta. Jalan Margoutomo (kini Mangkubumi) membujur ke selatan sampai rel kereta api. Letaknya strategis karena terhimpit deretan toko dan hotel modern pencakar langit. Di tengah gemerlap modernitas, Margoutomo menyiratkan filosofi keutamaan hidup yang berpancar pada Tuhan.

Bila Tuhan menjadi wacana kehidupan seseorang, maka pelbagai ekspresi hidupnya tak jauh dari kemaslahatan dan cinta kasih tanpa membedakan agama, kepercayaan, suku, dan pembeda lain. Poros antara Tuhan dan manusia ini penting dalam peradaban Jawa karena betapapun Tuhan ialah faktor fundamental yang menciptakan dan mengatur kosmos.

Menyeberang rel kereta api sampailah pada Jalan Malioboro yang membentang sampai Pasar Bringharjo. Malioboro terdiri atas dua kata, yaitu mali (wali) dan ngumboro (mengembara). Pesan esoterisnya jelas: bila Tuhan telah diakui sebagai "causa prima", tugas manusia selanjutnya adalah menyebar kebaikan di muka bumi sebagaimana peran para wali lima abad lampau.

Setelah manusia mengutamakan kebaikan dan menyebarkan nilai-nilai moral, ia akan mencapai lapisan kemuliaan. Dimensi ini ditandai dengan Jalan Margomulyo (Pasar Bringharjo-Kantor Pos). Kemuliaan, dengan demikian, bukan sekadar posisi eksklusif di menara gading, melainkan suatu posisi kesadaran bahwa dunia adalah “panggung sandiwara” yang tak abadi sehingga kemuliaan sejati terletak pada rahmat Tuhan.

Tetapi, di atas kemuliaan, menurut filosofi jalan di Yogyakarta, masih terdapat satu langkah lagi sebelum mencapai keraton, yakni Jalan Pangurakan yang mencabang ke timur dan barat dengan alun-alun sebagai pemisahnya. Titik pangurakan itu meniscayakan manusia melepas “baju-baju” kepalsuan duniawi yang dewasa ini diberhalakan melalui tren dan label globalisasi.

Apa keistimewaan Yogyakarta selain tingkat peradaban yang luhur tapi dimuseumkan di etalase pariwisata yang menindas nilai-nilai, sementara keuntungan modal lebih diagungkan ketimbang kasepuhan budaya?


Penulis:
Rony K. Pratama 
Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta
KONTAK PENULIS
Advertisement advertise here