Sosiologi Humoriezt vs Qzruh

- 12/11/2017 02:32:00 AM
advertise here
Sosiologi Humoriezt vs Qzruh
Penulis, Rony K Pratama

INGAR-bingar geng lokal di Yogyakarta semakin meredup selama sepuluh tahun terakhir. Bila dulu, tahun 2000-an, eksistensi mereka masih menjamur. Bahkan, sampai ke sekolah-sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA tak luput saling lempar curiga.

Kalau dia Qzruh (Qami Zuka Rusuh untuk Hiburan), berarti lawannya Humoriezt (Humornya Anak Maniezt), meski keduanya rajin baku-hantam, kalau sudah kehabisan uang pasti ujung-ujungnya menengadah ke orang tua masing-masing.

Tak jelas kapan dua kelompok remaja itu mulai mengemuka di kota pelajar. Namun, seingatku, kandang Humoriezt itu di sekitar dusun Karangmalang dan Mrican. Tahun 2005, tatkala aku masih mengenakan seragam merah-putih plus berdasi bertuliskan Tut Wuri Handayani, temanku mengajak buat stiker Humoriezt. Kami sama-sama satu kelas di salah satu SD di utara Mrican.

Sebagai salah seorang anak yang tinggal di Mrican, dia mengenal Humoriezt sejak dalam pikiran. Maksudnya, teman kongko yang tiada lain adalah tetangganya sendiri itu sering mendoktrin superioritas Humoriezt ketimbang geng lain.

Kalau dalam istilahnya Karl Marx barangkali mereka sedang mengimpun massa. Lewat apa? Stiker dan tulisan grafiti.

Yang terakhir itu membutuhkan turba (turun ke bawah)—pinjam istilah Tan Malaka. Karena aku juga tinggal di Mrican, tentu aku ikut agenda heroik itu. Sasaran kami di tembok-tembok kosong. Biasanya di sekolah-sekolah rival, terutama SD.

Beberapa tahun setelahnya ternyata aku sadar bahwa pengalaman itu merupakan bentuk pengakuan identitas. Vandalisme, karenanya, adalah usaha meninggalkan jejak, suatu kenangan semiotik.

Orang Humoriezt tahu betul kalau basis Qzruh paling militan itu di Samirono. Jadi, aksi corat-coret malam hari tadi sering diurungkan bila sasarannya di dusun selatan Mrican itu. Tapi temanku tersebut punya nyali besar daripada pemuda kekinian yang hobi membual di dinding Facebook maupun cuitan Twitter. Kalau kata teman-teman dakwah kampus: konkret!—walau konotasinya bukan dalam konteks nikah muda.

Dia ke sana dengan sepeda BMX berjalu depan dan belakang. Meskipun kalau ketemu anak Qzruh lain di jalan, alih-alih menyetop dan mengajak berkelahi, dia justru menepi dan malah jajan Mi Ayam Samirono.

Dia sudah paham siasat: ketika kau di kandang lawan, maka kau bisa memilih menerjang atau mundur alias pura-pura tidak tahu. Dia tak ingin bunuh diri dengan pilihan pertama.

Diplomasi Qzruh-Humoriezt

KALAU membuat komparasi sederhana, dua geng papan atas itu sama-sama menduduki posisi penting di atas gerombolan SMA. Di Yogyakarta, pemicu tawuran antarsekolah acap kali terjadi karena kepentingan perseorangan yang berbeda seragam: Qzruh dan Humoriezt.

Simplifikasinya bisa begini. Pertama, Qzruh diwakili golongan siswa menengah ke atas, sedangkan Humoriezt sebaliknya. Jadi, kita bisa menggeneralisasikan bahwa sejumlah geng SMA di Yogyakarta itu, baik Oestad, Regazt, GNZ, GNB, REM, maupun kelompok-kelompok lain itu sudah barang tentu berafiliasi ke mana. “To be or not to be,” kata Shakespeare, “that is the question.”

Seperti akronimnya, Qzruh yang berkelindan dengan kekacauan, ia cenderung aktif ketika melakukan gerakan. Sementara itu, Humoriezt sedikit berbeda dengan oposisi abadinya itu yang memilih kalem dan elegan.

Akan tetapi, keduanya melakukan rekonsiliasi tanpa syarat tatkala Yogyakarta dilanda bencana gempa bumi pada tahun 2006. Tahun kelam itu menggoyahkan bumi Mataram selama kurang hampir satu menit. Rumah-rumah berantakan, khususnya bagian selatan Yogyakarta.

Tanpa komando dari atasan, kecuali didorong oleh hatu nurani diri sendiri, Qzruh dan Humoriezt bahu-membahu melakukan kerja bakti tanpa pamrih. Yang semula adu otot, namun setelah peristiwa itu mereka erat dalam dekapan ukhuwah. Semoga kita begitu.

Penulis:
Rony K Pratama
Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Advertisement advertise here