Wajah Nirliterasi Kita

- 12/11/2017 02:24:00 AM
advertise here
Wajah Penulis, Rony K Pratama

DI zaman pascakebenaran dengan gelombang informasi yang saling sengkarut kita berada di tikungan ambivalensi dalam membedakan fakta dan fiksi. Segala hal dipermudah, termasuk akses pengetahuan, hanya dengan ketik pencarian di Mbah Google kita akan mendapatkan sederet informasi dengan cepat.

Kini setiap orang bebas berkomentar, menulis, bahkan menghujam orang lain dengan amunisi berupa informasi. Tendensi informasi, dengan demikian, mampu "membunuh" manusia tanpa kontak fisik.

Di tengah situasi yang berkecamuk itu kita memerlukan literasi kritis sebagai benteng penguat sekaligus pisau bedah guna memilih dan memilah informasi. Redefenisi literasi, karenanya, merupakan keniscayaan yang harus dirumuskan, baik di tataran teoretis maupun praktis.

Literasi di zaman ini bukan lagi diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan mengkritisi apa yang dibaca dan ditulis. Oleh karena itu, pendidikan, merupakan lahan strategis untuk mengembangkan dan mengajarkan konsep itu sebagai bentuk antitesis terhadap fenomena penggunaan media sosial dewasa ini.

Itu kenapa beberapa bulan terakhir aku terdorong di bidang literasi, khususnya ikut serta mewacanakan literasi sebagai konsep mutakhir di media massa. Apa yang kulakukan tiada lain adalah urun rembuk kepada sidang pembaca supaya gayung bersambut berupa pro dan kontra.

Diskursus ini penting bagiku karena di tengah tradisi "komentar" yang mengemuka hari ini kita melupakan tradisi "membaca" yang seharusnya diposisikan seimbang. Kasus tersebut mudah ditemukan dalam praktik bermedia sosial.

Setiap hari kita temukan orang berperang secara verbal hanya karena menyoal tema tertentu. Mereka, baik kubu kanan maupun kiri, sama-sama belum mendalami duduk perkara secara jernih dan sistematis. Mereka tertaklukan oleh kebencian sektoral hanya karena baru membaca informasi versinya semata.

Realitas itu seolah-olah meremukkan persaudaraan kita. Saling mengolok-olok, membenci, memfitnah, dan tindakan pecah-belah lain sebetulnya disulut oleh ketidaklengkapan memahami informasi. Peristiwa ini, dugaanku, diakibatkan oleh nirliterasi.

Pendidikan bahasa mempunyai peran strategis untuk mengatasi masalah di atas. Namun demikian, paradigma pembelajaran bahasa perlu dikonstruksi ulang dengan dan melalui literasi sebagai sub-mata-pelajaran tambahan.

Usaha ini tak semudah membalikan telapak tangan karena persepsi pelajaran bahasa di masyarakat telah terdistorsi sebagai pelajaran tata bahasa dan hafalan teori. Itupun ditambah dengan beban instruktif dari regulasi pemerintah yang tiap saat berhak mengatur orientasi pembelajaran bahasa.

Problematika tersebut membuat kita was-was untuk melakukan terobosan baru. Karena itu, jalan terbaik agar idealisme kita tercapai, kendatipun tak dihiraukan orang lain, adalah dengan merenung dan menulis sebebas-bebasnya.

Buku Harian

Penulis, Rony K Pratama

DUA dekade lampau guru bahasa Indonesia acap memberikan tugas harian berupa catatan harian. Tugas itu dianggap penting bagi pembiasan siswa dalam menguraikan gagasan dan intuisi hatinya secara sistematis. Luaran yang diharapkan, menurut pengajar, ialah menumbuhkan sensibilitas bahasa dan berani berpendapat biarpun sekadar di buku harian.

Masifnya perkembangan aplikasi jejaring sosial di antara generasi milenial secara implisit mendepak keluar tradisi menulis buku harian. Kini guru tak lagi mewajibkan siswanya untuk kembali merayakan tradisi literasi itu. Alih-alih diajarkan di kelas dengan metode pengajaran yang ciamik, buku harian dianggap sepele di tengah hegemoni soal pilihan ganda persiapan UN.

Sebetulnya guru bisa melakukan terobosan kreatif seperti mengganti tugas buku harian dengan menulis catatan di akun media sosial. Peralihan media dari buku cetak ke ruang daring itu justru memfamilierkan menulis dengan pendekatan baru.

Walaupun karakteristik media tulis berbeda, buah pena harus tetap berkualitas. Ini menandakan kesungguhan menulis yang semestinya diajarkan guru sejak dini. Bila pola pembelajaran semacam itu dilakukan terus-menerus siswa akan terbiasa menulis.

Bayangkan satu hari satu tulisan singkat, baik ditulis di Facebook, Blog, maupun Instagram. Dengan ditambahkan foto hasil potretan siswa, maka tulisan yang ia buat akan lebih legit. Oleh sebab itu, proses menulis demikian membuat siswa melek literasi.

Frasa melek literasi berpaut erat dengan literasi kritis yang memungkinkan siswa memahami teks seutuhnya sehingga ia mampu menata pengetahuan lebih sistematis dan komprehensif. Proses penataan tersebut sekaligus juga pembentukan konstruksi pemahaman siswa terhadap informasi.

Dengan demikian, orientasi pembelajaran literasi adalah siswa diharapkan mampu membedakan informasi fakta, opini, hoaks, dan distorsi tertulis lain. Sementara buku harian berbasis media sosial merupakan jembatan strategis untuk mengantarkan siswa ke jagat literasi yang semakin pelik.

Penulis:
Rony K Pratama
Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Advertisement advertise here